Sebagaimana biasanya sabtu merupakan hari yang selalu ditunggu-tunggu oleh banyak orang, entah karena weekend sebagai waktu untuk 'berleha-leha', atau karena merupakan waktu untuk istirahat 'penuh' dari segala kepenatan pekerjaan selama sepekan. Tapi tak berlaku roman itu bagi mahasiswa seperti diriku, sabtu itu sudah berada di Bogor kembali padahal hari sebelumnya merupakan hari raya Idul Adha, dan aku pun hanya sempat pulang kamis malam jam 9, ke rumah nenek di Jakarta, dan besok siangnya setelah Jumat,langsung bergegas balik ke Bogor. Hal ini dikarenakan aku telah merencanakan sejak jauh hari untuk mengikuti pelatihan integrasi ISO 9001, ISO 14001, dan OHSAS 18001 di Pusat Studi Jepang(PSJ) UI Depok.
Kegiatan ini akan dilaksanakan di akhir pekan di Depok, saat terakhir pendaftaran ku lihat peserta dari IPB cuma dua orang. Aku dan Romauli. Akhirnya sabtu jam 6,kami sudah bergegas mengejar kereta jam 7, tak ayal walaupun hari itu hari sabtu, dan masih hari-hari lebaran tidak mengurangi padatnya kereta api ekonomi. Yah inilah satu-satunya angkotan massal kota yang sangat murah dan terjangkau, yang mampu menganggut jutaan warga di sekitar kota-kota kecil pinggiran Ibu Kota, untuk tiap hari pulang balik di panasnya tanah kota Betawi ini. Padatnya padat gilaa, hingga untuk menapakkan kaki saja di lantai sudah tak bisa, nafas pun sudah tersengal sengal, kaki bagai melayang, badan terjepit jepit, terdesak, jangan tanya baunya kawan, sudah tak bisa kau bedakan yang mana wangi parfum mahal dan wangi ayam, dan takkan bisa kau bedakan mana orang yang akan pergi ke kantor, dan akan yang pergi ke pasar, sama semua. Tertindih di lautan manusia -dalam hatiku, seperti ini mungkin keadaan jamaah haji saat wukuf di tanah suci Arab saudi-, apalagi dengan kondisi warga di sana dgn postur tubuhnya lebih besar atau tinggi-tinggi, pantas saja banyak jamaah yang meninggal di sana. Sedikit tau keadaan padatnya manusia, sehingga untuk menarik nafas sedkit lebih dalam saja pun tak kan bisa. Wallahumustaan.
ku pasrah.
Saat itu karena aku biasa naik kereta dengan tujuan akhir jakarta kota, stasiun paling akhir di lintasan KRL Jabodetabek, akhirnya saat masuk gerbong ku langsung mengambil tempat berdiri di tengah-tengah gerbong, tak sadar kalo tujuanku adalah UI depok yang mungkin hanya sekitar 7 stasiun dari Bogor. akhirnya dari citayam hingga Cilebut ratusan orang masuk berdesakan, hitungan detik tiap gerbong sesak gilaaa.
kulihat ada seorang gadis kecil berjilbab, ku perkirakan mungkin seorang mahasiswi UI. yap ternyata benar. Sempat dia bertanya apakah kereta ini melewati kampus UI depok, aneh ku pikir masa' anak UI nanya gitu,ternyata dia mahasiswa baru, baru semester 3. Oooo pantess pikirku, baru kali itu dia naik kereta mungkin, dan langsung shook dengann kondisi kereta yang semrawut, apalagi dengan tubuh kecilnya, makin tergenjetlah dia. Setelah ngobrol-ngobrol kita putuskan untuk turun di Pondok Cina saja, takut UI kelewatan kataku,OK. Akhirnya dengan nafas tersisa dan tenaga yang ada kita menerobos puluhan orang, sikut menyikut, dorong mendorong. "awas pak, misi pak,mau turun,misi2",sambil memaksa dengan sekuat tenaga, sedangkan dua orang mahasiswi, si romauli dan mahasiswa UI itu ikut di belakangku. terasa sudah sangat lelah tapi saat di lihat, ternyata kami cuma bergeser beberapa meter "ooh tidakkkk'".sedangkan puluhan orang masih berkurumun di depan pintu masuk. harus lewat, HARUS pikirku. sekali lagi dengan menarik nafas panjang dan terjepit sudah tubuhku di dua badan orang, nafasku sudah naik turun kulihat roma dan mahasiswi yang tak kutau namanya itu masih berpegangan tas dibelakangku. "OKE kita lanjut.........,, akhirnya samapi juga di depan pintu kereta dan bersamaan ketera berhetni di stasiun Pocin yap,kita akhirnya turun.
whhhhuuuuhh terasa lemas semua kaki,baju acak acakan, badan basah dengan keringat,persis seperti orang yang baru selesai lari maraton. Sebenarnya bukan satu dua kali ku naik kereta bahkan sudah tak terhitung, namun selama ini tujuan akhirku adalah sudirman atau di jakarta kota, hingga walaupun sangat padatku tetap 'anteng'aja duduk atau berdiri sampe kondisi kereta sudah sepi di stasiun akhir, namun ke Depok dengan naek kereta dan turun saat orang lagi mau naek dan lagi rame-ramenya, baru kali ini ni,dan dibayar tuntas tas.............
----------
Setelah seharian mengkuti pelatihan ISO yang sangat interaktif dan menarik, dengan peserta dari UI, Trisakti, UNDIP, UNJ, dan universitas besar lainnya.juga tak ketinggalan puluhan peserta dari perusahaan swasta besar,dari oil and gas, indofood, gapindo, konsultan dan perusahaan-perusahaan besar lainnya mengirimkan stafnya untuk mengikuti pelatihan ini,sedangkan hanya kami berdua (aku dan Roma) yang dari Bogor.
Kami pulang sore pukul 4. dan disinilah cerita bermulai,kondisi kereta sama dengan tadi pagi padat parahhh, seperti biasa tas ku posisikan di depan (untuk menghindari copet)begitupun dengan roma.kira-kira saat di stasiun depok baru, Roma menginjak sesuatu, "eh dompet"katanya..saat diambil dan dilihat dengan orang-orang isinya sudah kosong,tinggal foto-foto saja,wah korban copet ni kasian pikirku, namun setelah itu ada orang yang menyeletuk eh mba kok tasnya bolong tuh,dan si roma pun merasa agak tajam dengan permukaan tasnya, saat dilihat "ohh tidakk" tas roma sudah bolong bawahnya, saat diperiksa, kamera yang baru berumur sebulan plus dompet telah lenyap, dan ketika dia merba kantungnya "ooh my God" hanphone pun g ada. dia pun menutup mukanya,aku pun ikut panik "tenang-tenag rom,kilahku, coba cek lagi","g ada yu" . udah tenag-tenang.Dia pun dengan raut muka sedihnya,"yu,dompet yu,surat-surat,camdig, baru tuhhh"...........,"udah sabar rom,kamu koknga rasa si rom kataku,kobisa sih","g tau yu !!,,katanya.."
Hingga sampai di Bojong gede,kita masih terdiam, terpecahkan hening kereta saat ada seseorang di depanku yang mengatakan,"mas-mas kayaknya tas mas di sobek juga deh tu," saat ku lihat..oh tidakkkkk" astagfirullah,innalilahi", tasku ternyata disobek juga,dan cukup lebar,kok aku bisa nga rasa yakh,padahal dari awal masuk kereta tasku selalu di depanku,dan perasaanku nga ada yang mencurigakan di depanku. Saat kurogoh Alhamdulillah karena ada botol Aqua sehingga hape dan dompetku masih ada dan masih selamat Alhamdulillah ya Allah.
* *
Sampai di Bogor kamipun langsung menuju kantor Polisi dan mengurus semuanya,untuk berkas-berkas kehilangannya. Sepanjang jalan roma menunjukkan wajah penyesalannya,dan begitupun aku,kok bisa lalai yakh kita. tapi dengan sabar ku terus memberi semangat kepada temanku yang satu ini. Esok harinya, kami berniat tidak akan lagi naik KRL ekonomi, kapok dah. tapi apa mau dikata ternya kereta Pakuan tidak berhenti di UI sedangkan ekonomi AC ada jam 8.30, sementara pelatihan dimulai jam 9 pagi. Akhirnya dengan terpaksa kami naik ekonomi lagi, tapi minggu pagi ini,sangat berbeda,kondisi kereta sangat lengang, tak padat seperti kemaren, cukup lega.
Sarapan pagi akhirnya di stasiun UI, karena kali ini kereta cukup cepat sehingga kami datang terlalu cepat. Warung-warung di tasiun UI masih belum banyak yang buka, saat kami duduk sambil menikmati makanan. ku lihat ada seorang laki-laki paruh baya,namun rambutnya sudah mulai memutih dengan baju lusuh dan memegang tongkat sedari tadi berdri dihadapan kami,membawa sekantong kresek tissue,saat ada kereta berhenti dan puluhan orang keluar daripintu kadang di atertabrak dan tak terhiarukan,ku tauh di menjual tissue,tapi saat ku perhatikan lebih baik ternyata dia buta. Masya Allah hatiku bergetar pilu, mataku berair. Sakit hati ini, dalam di hatiku merasa sangat iba, bagaimana seorang buta masih mau berusaha berjualan tissue apalagi untungnya cuma seberapa, dia tak mau mengemis seperti orang-orang di jalanan, beberapa menit pandanganku terus tertuju padanya, pikiranku mengawang-ngawang, mengutuki diriku yang selama ini tidak pernah mau bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan. Sesaat kulihat dari kejauhan ada seorang anak kecil berlari sambil memegang kantong plastik bening yang begitu besar yang kadang dia pun terseret dengannya,dia membawa barang yang sama dengan lelaki buta itu dan ternyata dia mendekati lelaki buta itu dan memeluknya sambil bercakap-cakap, ternyata ku tau itu adalah anak lelakinya. hatiku masih teriris, bagaimana semangat juangnya untuk menafkahi keluarganya dengan kondisi itu. Tidak tau karena memang saat itu kubutuh tissue atau tidak, apa karen iba, atau memang karena aku habis makan sehingga ku berniat untuk membeli tissue bapak buta tersebut.
Saat kudekati,ku sapa
"bapak saya mau beli tissuenya", wajahnya langsung sumringah, terlihat betul tissunya belum laku dari tadi,kantong bening tissuenya masih penuh,ku makin iba.
"berapa dek,atau tiga?", tanyanya senang
"dua aja pak kataku". "Berapa pak?"
"jadinya Rp.4000 dek", saat ku berikan uang 5ribu, dia bertanya "ini uang berapa dek","itu uang 5 ribu pak",
"berarti kembali 1000 ya dek ya",
"ia pak" kataku
saat dia mengeluarkan uang,ada uang 10rb dan seribu kemudian dia meraba dan benar dia mengambil seribu, namun dia bertanya kembali "dek ini benar uang seribu yak?",
"iya pak" jawab ku.
Dalam hatiku bagaimana bisa seorang buta,yang begitu lugu bisa berjualan dikota besar seperti ini,ku beranikan bertanya sedikit
"Pak,apa tidak,ngeri pak,kalo ada yang curi tissue bapak,dan uang bapak,atau babak ditipu pak,apa ga takutpak?,apalgi dengan kondsi yang seperti ini "?
dengan polosnya dan sambil tersenyum dia menjawab, "Semua milik Allah, dan akan kembali ke Allah. rezeki itu du tangan Allah dek, saya percaya,saya masih bisa berusaha tanpa mengeluh dan berkeluh kesah.ini adalah hidup yang Allah berikan,makasyukurilah,bersyukurlah atas hidupmu,apalagi adek orang berada jangan sampe durhaka dgn Allah,dan tidakbersyukur"
hatiku langsung bergetar,kata-katanya menancap tepat di nyawaku,menghantam sanubariku bagai palu godam, pipiku basah,ku usap kepalaanknya,dan ku cium tangan bapak buat itu,"semoga Allah merahmati bapak dengan segala yang lebih baek dengan dunia dan isinya,Barakallhufiikum"
bapak itu cuma terenyum dan kembali berjalan pelan menjauh dariku,dan kembali menunggu kereta datang dan berharap ada yang mau membeli tissuenya,hanya untuk menyambung hidup dengan sesuap nasi.
Ku kembali ke tempat dudukku dengan langkah gontai, semangatku terpacu,aku harus bisa lebih baik dan lebih bersemangat dari bapak itu,aku tidak buta, aku masih sehat. Aku harus berbuat,aku harus memberi sebnyak-banyaknya,bukan ingin menerima sebanyak banyaknya. Hari itu pelatihan ku ikuti dengan anutisias,kata-kata bapak tadimasih terngiang dikapalaku,"bersyukurlah atas hidupmu".. ya... syukurilah,maka kau akan zuhud, sedikitku berpikir dengan sikapku kemaren ketika kecopetan dan tasku robek, bagaimana tingginya sesalku dan amarahku,aku menyesal
***
dua pekan setelah pelatihan itu, Sabtu ayahku berkunjung ke Bogor untuk menjenguk tanteku yang sedang sakit,sambil jenguk anaknya yang satu ini (^_^),semalam sudah dipakuan kupulang kekossan,minggu pagi, subuh pukul 4.15, aku terbangun,sangat ingin kekamar mandi dengan terburu-buru keluar dan ke kamar mandi, setelah hajat selesai dan wudhu dilaksanakan,kukembali ke kamar,dan betapa kagetnya diriku melihat laptop dan handphoneku telah lenyap,Astagfirullah,aku kemalingan,kulihat masih ada jejakkakikotor di karpetkamarku, ku terduduk,Innalillahi wa innailahirojiun", ku lalai,lupa mengunci pintu saat terburu-buru ke kamar mandi. Akhirnya ku cuma bisa terduduk sepi, kulaksanakan sholat subuh terlebih dahulu kemudian mandi dan bergegas ke Pakuan regency, kucoba utarakan pada ayah dan keluarga atas cobaan yang tadi menimpaku, alhamdulillah keluarga memang selalu lebih bijak, ayah berkata "yakh diiklasin aja, namanya juga barang ga bernyawa, mau diapa juga. belum ejekinya, Insya Allah ada hikmahnya". Alhamdulillah.
ku mencoba merefleksikan diri, sempat sesaat setelah kejadian aku agak tidak terima tapi cuma berselang 5 sepuluh menit terbayang wajah bapak buta penjual tissue yang minggu lalu ku temui di stasiun UI depok, kembali ku ingat kata-katanya, "semua itu milik Allah dek, semua hanya titipan, kita hanya bisa bersyukur atas apa yang ada dan terus berusaha berbuat yang terbaik di hidup ini", "Innalillahi wa inna ilaihi rojiun". Ya ku yakin semua ada hikmahnya, mencoba untuk ikhlas.
Ternyata kesedihan itu tidak sampai hitungan jam, bahkan mungkin cuma hitungan menit, setelah itu ku kembali larut dalam hiruk keluarga, ayah mengajak berkunjung ke nenek di Bandung. Selasa pagi itu, seperti tidak terasa apa-apa di diriku, tidak seperi orang habis kehilangan, padahal bukan masalah laptop itu, tapi data yang ada didalamnya yang mungkin sangat-sangat bernlai, tapi karena keluarga, karen ayah, ku tahu harta yang paling berharga adalah keluraga setelah keimanan kita kepada Allah.
Alahamdulillah Allah membayar tuntas dengan kebahagiaan beserta keluarga, ku percaya pada janji Allah, "sesungguya setelah kesulitan itu ada kemudahan, seungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan".
Mungkin bapak buta itu lebih tegar, dia takkan merasa kehilangan apapun, jika memang ada yang luput dunia darinya, karena dia ikhas untuk hidup ini, tak seperti diri ini yang tak bisa mengartikan sari pati hidup, yang belum bisa zuhud akan dunia, yang belum bisa ikhlas atas segala apa takdir Tuhan
mungkin.
Browse » Home » » Pembelajaran hidup dari penjual tissue yang buta
Pembelajaran hidup dari penjual tissue yang buta
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 komentar:
Post a Comment
ni komentar deh