Minggu pagi terlewat dengan dingin menyelimuti tubuh. Hari ini terasa sangat berbeda tentunya. Pagi ini persiapan keberangkatan untuk magang di Surabaya dimulai. Kereta menjadi pilihan untuk menuju kota pahlawan, keberangkatan akan dimulai dari stasiun gambir Jakarta pada sore hari dan insya Allah akan tiba di Surabaya Senin pagi, sekitar jam delapanan lah. Yap. Minggu pagi sibuk bukan kepalang karena belum ada sama sekali persiapan barang dan fisik untuk berangkat ke Surabaya. Jam 7 pagi udah mulai kalang kabut untuk membereskan pakaian, buku-buku yang akan dibawa, dan seluruh surat-surat administrasi untuk di sana. Satu persatu barang dikemas, dirapikan, dilipat, siippp…siap masuk dalam tas. Rapi sudah. Sebelum mandi ngenet sebentar mengecek keadaan lintas jawa, dari kondisi kereta, jadwal kerta pakuan Bogor-Gambir, nyari-nyari info kondisi cuaca, jadwal keberangkatan dan tentunya ngecek email dan blog… siipp semuanya lancer, Insya Allah. Siap berangkat
Siang itu sudah dapat janji dengan 11 orang teman yang laennya untuk ngumpul di depan BNI pukul 10.30 tengggg tapi apa mau dikata, watak orang Indonesia, yang selalu malakukan perisiapan atau siap-siap jika sudah sebentar lagi mau berangkat masih saja melekat di diri, akhirnya ngarettt dahhh, jam 10.30 baru keluar kosan, dengan tertatih , “ampyunnn berat amat ni barang, padahal udah di sortir berapa kali” pikirku. Naek angkot “kampus dalam” ke depan BNI (he3 manja amat ya), tapi emang berat apalagi kalo minggu begini pasar kaget bukan maen ramenya bikin kaget2 beneran. sumpah deh……
Sampai di BNI ternyata teman-teman dah pada datang dengan barang-barangnya masing-masing yang masya Allah bejibun, buju’ buneng ni anak-anak mau pada jadi kloter jamaah haji, apa mau jadi TKW ke Malaysia ni barang-barangnya kayak mau pindahan, malah kayak mau pulang kampung untuk selamanya (he.. lebaaayyy)
Pukul 11.30 tepat di handphone ku, “nyari angkot dek” kataku, dah carter satu aja, coba tawar deh bisa ga 40ribu…..,” eng ing eng lupa aku ternyata barang-barang ni barudak pada bejibun dah dua angkot jadinya…., coba tawar, kaga bisa dapatnya 60ribu… dah ambil aja dah daripada kita ngeteng ngangkat ni barang-barangnya jamaah haji…. Heuuu
Yap, dari stasiun Bogor kita melaju ke Gambir dengan kereta pakuan ekpress, ada yang menarik di sohibb, kita orang hampiir saja salah kereta,, ha3 dasar wong ndesoooo, ndeso-ndesoo, kita naek kereta AC ekonomi, untungnya ada penjual asongan yang ngeliat tiket kita dan beri tau kalo kerata yang kita naiki sekarang ntu’, bukan pakuan tapi ekonomi AC, walah semprrull , langsung panik, mana ni kereta mau berangkat lagi “ayo2 buru…” sudah dah, ntu barang nyang buanyak di angkut lagi keluar kereta dan pas kita keluar …. Alhamdulillah datang deh pakuannya. Ujuk-ujuk naek dan menghempaskan badan yang letih di tempat duduknya yang empuk, sraappppp.
Sekejap kita duduk nyaman dan menikmati hembusan angin Cepoi-cepoi ehh AC beneran ni maksdunya…., kembali kawan seperti tulisanku yang sebelumnya, tiap naek kerata selalu saja ku merasa tersihir dan terhenyak melewati kemahadasyatan mega ibukota Jakarta yang dapat meyulap hati-hati orang kampung di sana untuk berbondong-bondong menindih tanah ibukota yang kian hari makin panas dan sumpeknya bukan main, gubuk-gubuk terlewat, sungai hitam kelam terlewat, rumah-rumah penduduk yang hanya beberapa meter dari rel kerata berjejer tapi tak beraturan, anak-anak jalanan luntang, orang papa dimana-mana, terenyah hati ini, rumah-rumah dari kardus berantena TV, pasar-pasar tradisional yang kumuh sangat, sepanjang stasiun dari Bogor hingga perbatasan Depok dan Jakarta, inilah kawan inilah ibukotaku, Jakarta impian tanah suci bagi orang kampungku.
Sampai di Gambir pukul 13.10, sholat makan, and selebihnya waitttt, and wait karena masih 5 jam lagi sampe sore .. Sory kawan.. teman kesebelasanku ; tika, roma, epul, nana, septin, tyas, ratih, idek, dina,roji,umichan…..
Sory dah kepagian kita berangkatnya dari Bogor, tapi it’s ok-lah, daripada kita terlambat yakh2, mending nunggu aja, sabar2….., enjoy your trippp
Jakarta, Gambir, 19 Juli 2009.
-----------------------------------------------------
Pukul 17.45 kereta Gumarang tujuan Surabaya belum terlihat juga, sekumpulan orang riuh rendah, hilir mudik, canda tawa, bercampur di pinggiran rel stasiun Gambir, kami termasuk kumpulan di dalamnya bedanya kami sudah kehilangan semangat,sudah kucel, ngantuk, capek dan terkikih dengan beratnya barang-barang bawaan. Hal ini karena kami datang terlalu pagi dari jam kedatangan kereta, euphoria kami habis digerogoti dengan “menunggu”, hal yang pasti semua kawan tidak menyukainya bukan, !.
Akhirnya kereta yang dinanti menunjukkan batang hidungnya, eh maksudnya lokomotifnya, tiket dicek kembali..siipp, “ kita gerbong 5”, bangku 2,3 dan 16 untuk A,B, C, dan D. Pas saat kereta berhenti jreeepppppp, semua orang bagaikan semut dilemparkan gula, bahkan semut pun tak akan se semrawut itu, berhamburan,berdesakan, dorong-mendorong. Sungguh aneh pikirku padahal ini bukannya kereta bisnis, yang setiap orang sudah punya nomor kursi masing-masing kan, mengapa harus berebut masuknya.. ????, itulah salah satu watak bangsaku selalu berebut sesuatu walaupun dirinya telah “kenyang”, telah cukup dan telah sangat-sangat mapan, tidak pernah bersyukur akan nikmat yang telah ada, selalu berebut dan tidak pernah tenang dan merasa cukup akan nikmat
… sungguh heran.. sungguhh heran (syair franky S.)
Kereta melaju, sayup terlewat gedung-gedung tinggi, khas kota Jakarta, terlewat Monas, gedung DKP, semerbak aroma ibukota menghilang perlahan dalam lamunanku, meninggalkan banyak kenangan dan kelucuan cerita tersendiri, sejenak kupandang keluar jendela kereta, pasar-pasar tradisional yang terhimpit bangunan-bangunan megah, hypermart, giant, alfamart. Para pejalan kaki, pengendara sepeda motor, para pedagang kaki lima, semua sama bagiku, wajah mereka sama bagiku, wajah orang-orang yang tertekan batinnya, banyak masalahnya, tidak ada senyum dari wajah mereka, yang ada hanya wajah yang kusam dan lesu tertumpuk dengan kepulan asap hitam dan debu berterbangan. Ibukota pilu. Kutinggalkan sejenak, keabadian keramaianmu. Tetesan air wudhu, mencoba menghilangkan buyarkan lamunanku, dan mencoba berkonsentrasi untuk kembali mengingat sang pencipta. Sholat Magrib berkumandang keras dan sangat keras di depan telinga-telinga manusia ibukota yang mungkin telah lupa akan kewajiban Sholat. Wallahumusta’an. Terima Kasih ya Allah, nikmat terbesarmu adalah nikmat iman.
Matahari mulai beristirahat menyinari Barat Indonesia dan bergiliran untuk menyinari kawasan Asia Selatan, dan samudra HIndia. Malam mulai menyelimuti arah pandanganku di luar jendela kereta. Sudah tidak terlihat lagi gegap gempita kota, tergantikan dengan suasana pedesaan, yakh karena kutahu sepanjang jalan ini, adalah sawah dan sawah…….
Kami bersebelas terpisah menjadi 7 bagian kursi, namun masih dalam satu gerbong kereta. Salah seorang sahabat –fakhrur roji- atau biasa dipanggl cania (he..3x) dalam kondisi yang kurang sehat, sedari pergi tadi demamnya kambuh lagi, padahal saat pergi masih seger-seger saja, yaahh kasian temanku yang satu ini, mungkin kelelahan mengurus dua kegiatan besar kampus yang telah sedang berlangsung dan akan berlangsung nanti. Dia merupakan salah satu konseptor acara yang unggul dan banyak memberikan kontribusi di lembaga kemahasiswaan kampus. “yang sabar sahabat, ini adalah ujian dari Allah, moga ada hikmahnya’.
Tidak Terasa waktu terus melibas kita, saat semua orang telah terlelap, aku masih terjaga dari jam 8 malam tadi dengan sebuah buku yang menarik perhatianku, buku itu ku pinjam dari saudari Dina, salah saeorang temanku dalam perjalana itu, dia merupakan satu-satunya yang akan magang di perusahaan Kelola Mina Laut, salah satu perusahaan yang cukup besar dan sangat mumpuni dalam pengolahan perikanan.
Sudah lebih 3 jam ku libas habis lembaran-lembaran buku itu, buku dengan judul kiat berpikir positif, semula dari judulnya tidak terlalu menarik minatku, karena pikirku buku-buku semacam itu sudah sering kubaca, dan biasanya konten dan susbstansi serta alur pikiran penulis sudah dapat kutebak dengan hanya membaca awal dan akhir bukunya, namun karena kebosanan tidak dapat kuhilangkan dari diri, maka ku mulai mencoba membuka-buka biografi penulis dan mulai melirik lembaran demi lembaran, dan masya Allah, tidak terasa sudah 200an halaman buku ini menyihirku, kata-katanya mampu menghidupkan adrenalin ephoriaku, yang sudah lama tertidur, kata-katanya tidak hanya memberi semangat namun juga memiliki arti yang mendalam tentang pelajaran kehidupan, perlahan mulai kutemukan alur pembawaan buku ini, sangat hebat, “salam super” kata pa Mario Teguh, dahsyaatt,.
Begitulah mungkin takdir Allah kepadaku, dan begitu sayanganya Dia, hingga ketika aku mau mulai melaksanakan magang, namun Dialah Sang pemilik hati yang mebolak-balikkan hati, Dia tau kalau hatiku sekarang lagi sedu, lemah, loyo, tidak ada semangat, dan Allah menakdirkan untuk aku membaca buku motivation ini sesaat sebelum ku memulai magangku, dan itu merubah semua niatku, merubah segala pikiran negatifku, merombak semua akar-akar kemalasanku, mencengkram kuat di dadaku, untuk terus berupaya sebagai seorang manusia untuk bekerja, beramal, dan berdoa, terus menerus. Karena hidup adalah perjuangan, ya hidup adalah perjuangan.
Surabaya, kota pahlawan, kota tempat muculnya para tokoh-tokoh nasional yang gagah berani, tentunya tidak akan mau menerima cecunguk lemah mental sepertiku. “kupenjaman mata”, kuhirup nafas-nafas dalam, kuikrarkan dalam hati sambil mengucapkan bismillah, “Ya Allah luruskanlah niatku, Ya Allah luruskanlah niatku, kupejam mata dan lirih, terucap “Ya Allah ku niatkan magang ini dan semua jerih payahku untuk beramal di hadapanmu, dan mendapat ridhomu.”berilah aku kemudahanMu……………………………………………….
Kuperbaiki niatku, dengan semangat menggebu, dan pikiran terpacu, SEMANGAT…!
“Pelajarilah niat, karena niat itu lebih afdhol daripada amalan” (Yahya bin Abi Katsir).
Stasiun Cirebon, 19 Juli 2009.-
----------------------------
Rel kerera terus berderus, menyingsingkan gemuruh suara di tengah malam pekat dan kesunyian kota-kota kecil, stasiun-demi stasiun terlewati, hingga memasuki kawasan tengah pulau Jawa, Tegal, Pekalongan, hingga terlewat waktu malam dan hari senin telah masuk, kereta pun muali merambah kawasan timur Jawa, dengan kecepatan konstan membawa ratusan manusia melintasi utara pulau Jawa, keadaan kerat mulai sunyi senyap, setiap orang mulai terlelap di kursinya, namun aku masih berkutat dengan buku baru yang kudapatkan tadi, sudah hampir setengah buku kubaca. “whuupp……..” sejenak kupejamkan mata, dan kurebahkan badan dan kepalaku di sandaran kursi kereta, sepoi kipas angin ditambah hembusan angin malam dan udaranya menyapu tubuhku, ku lihat Dina mulai terjaga sepertinya dia kurang nyaman dengan posisi tidurnya, kursi kami memang terletak di paling belakang dekat dengan WC, sehingga banyak orang yang hilir mudik, kebetulan kursi kami sengaja tempatkan saling berhadapan agar kaki bisa diluruskan kedepan, tapi yang jadi malah susah tidurnya…...
Dina mulai terjaga dan kami pun mulai saling bertukar cerita, tentang masa sma, dan sagala tentang keorganisasian, sangat menarik, hingga larut…. Inilah salah satu kebiasaanku jika ada yang meladeni untuk ngobrol, bahkan untuk tidur pun biasanya terlupa. Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi. Masya Allah, tidur sejenak pun belum, takut jika siangnya malah pusing, akhirnya kita sepakat meghentikan arena “buang-buang air mulut” kita dan segera tiduurr. Rasanya baru ketempelkan kepala ini di bantal kursi sudah terdengar azan subuh, masya Allah………
Akhirnya subuh aku tunaikan terlebih dahulu dan mulai melanjutkan tidur hingga sinar matahari pagi menembus jendela kereta, terlihar samar sawah-sawah menguning, burung-burung gereja ramai, memainkan dahan pohon, dari kejauhan menyembul ayu stasiun Lamongan, wuhh, akhirnya sebentar lagi nyampe pikirku, pukul 06.45 waktu di handphoneku. Dan jam digital handphone terus berlalu hingga menunjukkan pukul 07.45, dari kejauhan samar terlihat stasiun tua, dengan bangunan klasiknya, mengingatkan akan era 60-80an, wajah-wajah khas are’-are suroboyo mulai terpancar di hadapanku, yaahh, inilah stasiun pasar turi Surabaya, akhirnya sampai juga. Alhamdulillah, tidak terasa perjalanan setengah hari dari ujung barat Jawa menuju ujung timur Jawa. Sekejap ketika masinis menarik tuas remnya, kami hilang riuh ramai ditelan keramaian manusia, berjingkrak dengan beratnya bawaan.Tertelan keramaian, hilang penglihatan di tengah gerombolan. Selama datang Ditanah suci para pejuang, kota pahlawan. Surabaya.
Pasar Turi, Surabaya 20 Juli 2009.- to be continue in kota pahlawan part II.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 komentar:
Post a Comment
ni komentar deh