Salam sahabat, berjumpa kembali di pengunjung bulan Oktober ini
Sore hari di akhir pekan begitu sepi dan menjemukan, tidak ada aktifitas yang berarti. Dua pekan ini merupakan masa-masa ujian tengah semester di kampusku, semestinya merupakan masa-masa yang sangat sibuk dan memusingkan kepala namun tidak bagiku, mahasiswa tingkat akhir (semester 7). Mata kuliah yang tersisia tinggal empat, tiga ujiannya sudah selesai di awal minggu. Tinggal satu yang tersisa dan terselip di minggu berikutnya di akhir pekan pula. Tidak tau yah, kenapa setelah pergolakan jiwa beberapa bulan ini, banyak yang berubah didiriku. Mungkin teman-teman yang membaca tulisan terakhir saat bulan Juli lalu di Surabaya, saat magang seharusnya tulisan itu bersambung ke “Goes to kota pahlawan part II”, namun entah mengapa begitu banyak pertimbangan tulisan itu tidak jadi aku publish. Banyak cerita yang tidak sesuai dengan isi hatiku, banyak orang yang sebenarnya tidak akan sudi kemasukkan di ceritanya (hehehehe), yang terpenting dari kesemuanya saya sudah kehilangan selera untuk melanjutkan cerita itu, karena satu dan lain hal yang tidak dapat kuutarakan di sini. (harap maklum demi kemaslahatan umat dan keberlangsungan cinta anak manusia, dan demi prikemahasiswaan)wheehehehe. Aku tidak tega untuk merusak cerita hidup anak manusia lagi. Piszz dah.
Sore ini dengan PATAS (koneksi cepat terbatas) maksudku, hehehe, aku online di kamarku, duduk di beranda atas sambil menikmati udara bogor yang beberapa saat lagi akan hujan, terlihat awan-awan comulunimbus sudah sangat berat, tentunya inti kondensasinya pun sudah siap untuk turun menjadi rintik-rintik hujan, membasahi tanah ini. Begitulah cerita tiap sore di Kota Hujan. Emosi jiwa di teriknya siang akan segera luluh di kala senja, di kala semua orang istirahat dan di basuh dengan hujan yang dinginnya tentu tidak saja membuat orang akan menjadi sangat tenang, tapi yang terpenting adalah selau membut orang lapar^_^.
**
Tidak tahu mengapa tiba-tiba di akhir minggu ini perasaanku sangat tidak enak, (karena UTS mungkin ykh,..??) bukan..... bukan, bukan karena soal-soal MSDM yang susahnya setengah mampus, dan digabung sama ujian TPDT yang buat tangan kananku keram setengah jam, bukan. Ujian-ujian itu walaupun susahnya bikin orang-orang meratap,hehehe. Bagiku hambar, sudah tak berasa. Karena ada rasa lain yang mengalahkannya, yaitu rasa lelah yang sangat (je suis tress fatiguee ; kate temenku di Paris). Kondisi badan saat awal ujian drop, panas tinggi, idung meler-meler kayak anak PAUD, batuk-batuk kayak aki2, jalan sempoyongan kayang orang encokan, merinding aja dah pokoknya. Hal itu dikarenakan kebodohanku untuk begadang 3 hari 2 malam, untuk mengejar target deadline mengolah data persebaran klorofil a, dan TSS di WAKATOBi dari tahu 2004-2008. Tugas ini aku terima karena niat baik dan berbaktinya diriku (dubrakk,,, heeheh) sama kakak -suami dari sepupuku- dia lagi sekolah pasca(S3) di kampusku, kebetulan dia juga lagi numpuk tugasnya dan lagi sibuk mengurus tanteku yang lagi sakit, dan lagi di RS Dhamais Jakarta-kanker getah bening, Ya Allah, cobaan apa lagi ini/dalam hatiku-. Akhirnya dengan sepenuh jiwa kuterima tugas itu dan bersiap mengolah ribuan data yang ada.
Jadilah aku sampai sekarang dengan setumpuk tissue di tangan. Efek begadang, aku jadi pria ingusan..... tiitttt. Sambil terisak mengerjakan soal MSDM sambil memaki diriku kenapa tadi memilih duduk tepat di bawah AC, dodol, jadilah ingusku tambah meler.. meler... meler,, (maap buat embak2 yang lg ngerjain soal disampingku mungkin jd nga konsen mendengarkan anak ingusan disampingnya, sedang sedot2 ingus, atau buang2 ingus. Aduh sory y mba.)
Kondisi utama yang membuatku lelah adalah, ketika tiap malam ku terus berpikir akan dunia, duniaku. Kenapa saat-saat sekarang ku semangat sekali untuk mengejar dunia, bahkan kadang meremehkan dan menyepelekan dienku, mengapa? Apa yang berubah dari semangat juang ini. Adakah kau temukan perbedaan dirimu dengan 5 tahun yang lalu? Jawabannya .YA.
***
Cinta, membuat orang gila.
Begitu kata para pemabuk cinta, dan penyair jalanan. Kata itu sudah 8 tahun tidak mempan kepadaku, tapi baru saja 3 bulan lalu seorang anak manusia (selanjutnya ku sebut ‘dunia’), berani-beraninya membuka segel hatiku, tanpa persetujuan ku. Aku berontak, aku tak mau, tapi dia berhasil, dia berhasil merobohkan dindingku. Tanpa dia sadari itu, dan itulah yang menyesakkanku, dia tak menyadri bahwa perbuatannya iu memutuskan rantai itu. Dan dengan congkaknya dia merasa tak ada apa-apa. (dalam kasus ini agak sedikit kompleks dan akan sangat bisa dilihat dari ribuan cara pandang dan dengan ribuan pendapat pula).
Satu yang kusesalkan, sebelum segel itu terbuka secara tidak sengaja, aku tidak berkaca terlebih dahulu, tak bercermin sebelumnya, tak melihat diri dengan kaca pembesar.. emang siapa kamu..? dari mana?,(mungkin kalo temen-temen Jakarta gua, bilangnya ; ngaca dong lo, ngaca bro, tempat lo bukan di sini, cuihhh,) -hahaha, sadis banget yak-, tapi seperti itulah realitanya tidak ku lebih-lebihkan sobat.
Aku rela bersusah susah memenuhi apapun permintaan ‘dunia’, rela bermelarat demi ‘dunia’, cinta membutakan, cinta menipu. Karena ‘dunia’ tak perduli.
Aku pun sadar, aku tau aku telah jauh melanggar batas manhaj, yang telah di tentukan Tuhanku, aku tahu aku berdosa dengan semua ini, aku tahu. Aku tahu. Tapi aku tak bisa mengendalikannya, Demi Yang Menggenggam Jiwaku, hati ini tak bisa terkendali. Aku tahu telah berbuat dosa.
Oleh karena itu sebagaimana ku ceritakan sebelumnya padamu kawan, aku telah mati, namun sekarang mencoba melangkah kembali. Sore ini kudapatkan berita tentang ‘dunia’ yang membuatku tersadar, dan memang ‘dunia’ bahagia di sana, tapi ku tersadar, AKU TERLALU JAUH, AKU TERLALU JAUH MENINGGALKAN DIEN. Ampuni aku Ya Allah.
Tidak sepantasnya orang-orang yang mengaku termasuh sahabat-sahabatnya, termasuk yang benar-benar mincintai Rasulullah, melakukan hal ini. Tidak pantas wahyu !!
Akhirnya setelah ‘basah’ mata ini, sore di beranda kamarku. Ku putuskan untuk melangkah kembali menjadi seorang ghuroba terhadap dunianya.
Adzan ashar terdengar, bergegas ku berwudhu dan menuju Masjid samping kossan, di perjalan, ku dapati anak-anak muda sedang duduk dipinggir jalan, tertawa terbahak-bahak, menggoda tiap wanita yang lewat, menyanyi dengan gitarnya..... (ku tahu tembang itu, saat masa jahil dulu)
“Menikmati pedihnya cinta pria kesepian
Menikmati dinginnya hati pria kesepian.......................”
Mereka dengan sinis melihatku, mungkin pikir mereka, kok ada seorang mahasiswa jelek, jenggotan, dan memakai kain di atas mata kaki, jalannya nunduk, kayak orang cari gundu di tanah lagi, .., tawa pun lepas....
Dalam hati ku bertasbih, dan berucap “Ya, ku memang sepi akan duniaku, tapi ku merasa cukup dengan akhiratku, setitik ‘dunia’ tidak akan menggoyahkan lautan akhiratku” Kita akan lihat nanti siapa yang tersenyum di akhir dan siapa yang menyesal dengan penyesalan yang begitu dalam, kelak di akhirat, di hari pembalasan.
Dan berlalulah seorang anak manusia, ditengah gemerlapnya zaman, di tengah derasnya putaran roda kehidupan DUNIA. !
Ba’da Ashar, beranda Pondok Alkahfi. Bogor
Just ordinary person
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 komentar:
Post a Comment
ni komentar deh