Identifikasi Formalin Pada Produk Perikanan

Judul : Identifikasi Formalin Pada Produk Perikanan
Nama : Wahyu Ramadhan
NRP : C34060472
Asisten : Dede Saputra
Eka Ayuningrat
Ika Pranata Wahyu Daluningrum
Istifa Riani
Liana Tjahyadi
Kelompok : 3 (Tiga)
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Produk pangan dewasa ini semakin baragam bentuknya, baik itu dari segi jenisnya maupun dari segi rasa dan cara pengolahannya. Namun seiring dengan semakin pesatnya teknik pengolahan pangan, penambahan bahan-bahan aditif pada produk pangan sulit untuk dihindari. akibatnya keamanan pangan telah menjadi dasar pemilihan suatu produk pangan yang akan dikonsumssi
Keamanan pangan merupakan hal yang sedang banyak dipelajari, karena manusia semakin sadar akan pentingnya sumber makanan dan kandungan yang ada di dalam makanannya. aban manusia dari waktu ke waktu. Hal ini terjadi karena danya kemajuan ilmu pengetahuan serta kemajuan teknologi, sehingga diperlukan suatu cara untuk mengawasi keamanan pangan. Dalam proses keamanan pangan, dikenal pula usaha untuk menjaga daya tahan suatu bahan sehingga banyaklah muncul bahan-bahan pengawet yang bertujuan untuk memperpanjang masa simpan suatu bahan pangan. Namun dalam praktiknya di masyarakat, masih banyak yang belum memahami perbedaan penggunaan bahan pengawet untuh bahan-bahan pangan dan yang non pangan. Formalin merupakan salah satu pengawet non pangan yang sekarang banyak digunakan untuk mengawetkan makanan.
Formalin adalah nama dagang dari campuran formaldehid, metanol dan air. Formalin yang beredar di pasaran mempunyai kadar formaldehid yang bervariasi, antara 20% - 40%. Formalin memiliki kemampuan yang sangat baik ketika mengawetkan makanan, namun walau daya awetnya sangat luar biasa, formalin dilarang digunakan pada makanan. Di Indonesia, beberapa undang-undang yang melarang penggunaan formalin sebagai pengawet makanan adalah Peraturan Menteri Kesehatan No 722/1988, Peraturan Menteri Kesehatan No. 1168/Menkes/PER/X/1999, UU No 7/1996 tentang Pangan dan UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen. Hal ini disebabkan oleh bahaya residu yang ditinggalkannya bersifat karsinogenik bagi tubuh manusia.
Mengingat pentingnya masalah keamanan pangan, maka perlu dilakukan suatu uji terhadap kandungan racun ataupun zat-zat berbahaya yang terkandung dalam suatu produk makanan. Pada praktikum ini dilakukan uji terhadap kandungan formalin pada produk perikanan, sehingga dapat diketahui apakah produk tersebut layak dikonsumsi atau tidak.
1.2 Tujuan
Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui kandungan formalin pada produk yang diuji dan juga mengetahu konsentrasi dan absorbansinya.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Formalin
Formalin atau Senyawa kimia formaldehida (juga disebut metanal), merupakan aldehida berbentuknya gas dengan rumus kimia H2CO. Formaldehida awalnya disintesis oleh kimiawan Rusia Aleksandr Butlerov tahun 1859, tapi diidentifikasi oleh Hoffman tahun 1867. Formaldehida bisa dihasilkan dari pembakaran bahan yang mengandung karbon. Terkandung dalam asap pada kebakaran hutan, knalpot mobil, dan asap tembakau. Dalam atmosfer bumi, formaldehida dihasilkan dari aksi cahaya matahari dan oksigen terhadap metana dan hidrokarbon lain yang ada di atmosfer. Formaldehida dalam kadar kecil sekali juga dihasilkan sebagai metabolit kebanyakan organisme, termasuk manusia (Reuss 2005).
Meskipun dalam udara bebas formaldehida berada dalam wujud gas, tetapi bisa larut dalam air (biasanya dijual dalam kadar larutan 37% menggunakan merk dagang 'formalin' atau 'formol' ). Dalam air, formaldehida mengalami polimerisasi dan sedikit sekali yang ada dalam bentuk monomer H2CO. Umumnya, larutan ini mengandung beberapa persen metanol untuk membatasi polimerisasinya. Formalin adalah larutan formaldehida dalam air, dengan kadar antara 10%-40%. Meskipun formaldehida menampilkan sifat kimiawi seperti pada umumnya aldehida, senyawa ini lebih reaktif daripada aldehida lainnya. Formaldehida merupakan elektrofil, bisa dipakai dalam reaksi substitusi aromatik elektrofilik dan sanyawa aromatik serta bisa mengalami reaksi adisi elektrofilik dan alkena. Dalam keberadaan katalis basa, formaldehida bisa mengalami reaksi Cannizzaro, menghasilkan asam format dan metanol. Formaldehida bisa membentuk trimer siklik, 1,3,5-trioksana atau polimer linier polioksimetilena. Formasi zat ini menjadikan sifat-sifat gas formaldehida berbeda dari sifat gas ideal, terutama pada tekanan tinggi atau udara dingin. Formaldehida bisa dioksidasi oleh oksigen atmosfer menjadi asam format, karena itu larutan formaldehida harus ditutup serta diisolasi supaya tidak kemasukan udara (Reuss 2005).
Secara industri, formaldehida dibuat dari oksidasi katalitik metanol. Katalis yang paling sering dipakai adalah logam perak atau campuran oksida besi dan molibdenum serta vanadium. Dalam sistem oksida besi yang lebih sering dipakai (proses Formox), reaksi metanol dan oksigen terjadi pada 250 °C dan menghasilkan formaldehida, berdasarkan persamaan kimia
2 CH3OH + O2 2 H2CO + 2 H2O.
Katalis yang menggunakan perak biasanya dijalankan dalam temperatur yang lebih tinggi, kira-kira 650 °C. dalam keadaan ini, akan ada dua reaksi kimia sekaligus yang menghasilkan formaldehida: satu seperti yang di atas, sedangkan satu lagi adalah reaksi dehidrogenasi
CH3OH H2CO + H2.
Bila formaldehida ini dioksidasi kembali, akan menghasilkan asam format yang sering ada dalam larutan formaldehida dalam kadar ppm. Di dalam skala yang lebih kecil, formalin bisa juga dihasilkan dari konversi etanol, yang secara komersial tidak menguntungkan.
Formaldehida dapat digunakan untuk membasmi sebagian besar bakteri, sehingga sering digunakan sebagai disinfektan dan juga sebagai bahan pengawet. Sebagai disinfektan, Formaldehida dikenal juga dengan nama formalin dan dimanfaatkan sebagai pembersih; lantai, kapal, gudang dan pakaian. Formaldehida juga dipakai sebagai pengawet dalam vaksinasi. Dalam bidang medis, larutan formaldehida dipakai untuk mengeringkan kulit, misalnya mengangkat kutil. Larutan dari formaldehida sering dipakai dalam membalsem untuk mematikan bakteri serta untuk sementara mengawetkan bangkai.
Dalam industri, formaldehida kebanyakan dipakai dalam produksi polimer dan rupa-rupa bahan kimia. Jika digabungkan dengan fenol, urea, atau melamina, formaldehida menghasilkan resin termoset yang keras. Resin ini dipakai untuk lem permanen, misalnya yang dipakai untuk kayulapis/tripleks atau karpet. Juga dalam bentuk busa-nya sebagai insulasi. Lebih dari 50% produksi formaldehida dihabiskan untuk produksi resin formaldehida.
Untuk mensintesis bahan-bahan kimia, formaldehida dipakai untuk produksi alkohol polifungsional seperti pentaeritritol, yang dipakai untuk membuat cat bahan peledak. Turunan formaldehida yang lain adalah metilena difenil diisosianat, komponen penting dalam cat dan busa poliuretana, serta heksametilena tetramina, yang dipakai dalam resin fenol-formaldehida untuk membuat RDX (bahan peledak). Sebagai formalin, larutan senyawa kimia ini sering digunakan sebagai insektisida serta bahan baku pabrik-pabrik resin plastik dan bahan peledak (Reuss 2005).
2.2.1 Nilai Ambang Batas Penggunaan Formalin.
Formalin adalah nama dagang dari campuran formaldehid, metanol dan air. Formalin yang beredar di pasaran mempunyai kadar formaldehid yang bervariasi, antara 20% - 40%. Formalin sangat mudah larut dalam air. Jika dicampurkan dengan ikan misalnya, formalin dengan mudah terserap oleh daging ikan. Selanjutnya, formalin akan mengeluarkan (dehydrating) isi sel daging ikan, dan menggantikannya dengan formaldehid yang lebih kaku. Akibatnya bentuk ikan mampu bertahan dalam waktu yang lama. Selain itu, karena sifatnya yang mampu membunuh mikroba, daging ikan tidak akan mengalami pembusukan.
Sebenarnya batas toleransi Formaldehida (formalin adalah nama dagang zat ini) yang dapat diterima tubuh manusia dengan aman adalah dalam bentuk air minum, menurut International Programme on Chemical Safety (IPCS), adalah 0,1 mg per liter atau dalam satu hari asupan yang dibolehkan adalah 0,2 mg. Sementara formalin yang boleh masuk ke tubuh dalam bentuk makanan untuk orang dewasa adalah 1,5 mg hingga 14 mg per hari. Berdasarkan standar Eropa, kandungan formalin yang masuk dalam tubuh tidak boleh melebihi 660 ppm (1000 ppm setara 1 mg/liter). Sementara itu, berdasarkan hasil uji klinis, dosis toleransi tubuh manusia pada pemakaian secara terus-menerus (Recommended Dietary Daily Allowances/RDDA) untuk formalin sebesar 0,2 miligram per kilogram berat badan. Misalnya berat badan seseorang 50 kilogram, maka tubuh orang tersebut masih bisa mentoleransi sebesar 50 dikali 0,2 yaitu 10 miligram formalin secara terus-menerus. Sedangkan standar United State Environmental Protection Agency/USEPA untuk batas toleransi formalin di udara, tercatat sebatas 0.016 ppm. Sedangkan untuk pasta gigi dan produk shampo menurut peraturan pemerintah di negara-negara Uni Eropa (EU Cosmetic Directive) dan ASEAN (ASEAN Cosmetic Directive) memperbolehkan penggunaan formaldehida di dalam pasta gigi sebesar 0.1 % dan untuk produk shampoo dan sabun masing-masing sebesar 0.2 %. Peraturan ini sejalan dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan makanan (BPOM) di Indonesia (Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat & Makanan RI No HK.00.05.4.1745, Lampiran III "Daftar zat pengawet yang diizinkan digunakan dalam Kosmetik dengan persyaratan..." no 38 : Formaldehid dan paraformaldehid) (Fahruddin 2007)
Walaupun daya awetnya sangat luar biasa, formalin dilarang digunakan pada makanan. Di Indonesia, beberapa undang-undang yang melarang penggunaan formalin sebagai pengawet makanan adalah Peraturan Menteri Kesehatan No 722/1988, Peraturan Menteri Kesehatan No. 1168/Menkes/PER/X/1999, UU No 7/1996 tentang Pangan dan UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen (Paisal 2007).
2.3 K10H8O8S2 (Asam kromatofat)
Asam kromatofat digunakan untuk mengikat formalin agar terlepas dari bahan. Formalin juga bereaksi dengan asam kromatopik menghasilkan senyawa kompleks yang berwarna merah keunguan. Reaksinya dapat dipercepat dengan cara menambahkan asam fosfat dan dan hydrogen peroksida. Caranya bahan yang diduga mengandung formalin ditetesi dengan campuran antara asam kromatopik, asam fosfat, dan hydrogen peroksida. Jika dihasilkan warna merah keunguan maka dapat disimpulkan bahwa bahan tersebut mengandung formalin (Widyaningsih 2004).
2.4 H2SO4 (Asam Sulfat)
Asam sulfat mempunyai rumus kimia H2SO4, merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Zat ini larut dalam air pada semua perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan, termasuk dalam kebanyakan reaksi kimia. Kegunaan utama termasuk pemrosesan bijih mineral, sintesis kimia, pemrosesan air limbah dan pengilangan minyak.
Reaksi hidrasi (pelarutan dalam air) dari asam sulfat adalah reaksi eksoterm yang kuat. Jika air ditambah kepada asam sulfat pekat, terjadi pendidihan. Senantiasa tambah asam kepada air dan bukan sebaliknya. Sebagian dari masalah ini disebabkan perbedaan isipadu kedua cairan. Air kurang padu dibanding asam sulfat dan cenderung untuk terapung di atas asam. Reaksi tersebut membentuk ion hidronium:
H2SO4 + H2O H3O+ + HSO4-.
Disebabkan asam sulfat bersifat mengeringkan, asam sulfat merupakan agen pengering yang baik, dan digunakan dalam pengolahan kebanyakan buah-buahan kering. Apabila gas SO3 pekat ditambah kepada asam sulfat, ia membentuk H2S2O7. Ini dikenali sebagai asam sulfat fuming atau oleum atau, jarang-jarang sekali, asam Nordhausen. Di atmosfer, zat ini termasuk salah satu bahan kimia yang menyebabkan hujan asam. Asam sulfat dipercayai pertama kali ditemukan di Iran oleh Al-Razi pada abad ke-9 (Wells 1984).
2.5.1 Bakso
Bakso adalah produk pangan yang terbuat dari bahan utama daging yang dilumatkan, dicampur dengan bahan-bahan lainnya, dibentuk bulatan-bulatan, dan selanjutnya direbus. Berbeda dengan sosis, bakso dibuat tanpa mengalami proses kuring, pembungkusan maupun pengasapan (Ristek 2007).
Bakso adalah makanan berupa bola daging. Dibeberapa tempat seperti di Jakarta, bakso kerap ditulis baso. Bakso umumnya dibuat dari campuran daging sapi dan tepung, tetapi ada juga baso yang terbuat dari daging ayam atau ikan. Dalam penyajiannya bakso biasa dicampur dengan kuah bening dan mi. Dalam proses pembuatanya biasa dicampurkan boraks atau bleng untuk membuat tepung menjadi lebih kenyal mirip daging, hal ini membuat bakso pernah dianggap makanan yang kurang aman oleh BPOM. Bakso sangat populer di Indonesia, tempat yang terkenal menjadi sentra Bakso adalah Solo dan Malang yang disebut Bakso Kota Malang malahan di kota Malang terdapat kuliner Bakso Bakar. Dipercaya bakso awalnya berasal dari Republik Rakyat Cina. Syarat mutu bakso ikan menurut SNI 01 -3819-1995 dapat dilihat pada tabel 1 berikut:
Tabel 1. Syarat mutu bakso ikan
Kriteria uji
Satuan
Persyaratan
Keadaan
Bau
-
Normal, khas ikan
Rasa
-
Gurih
Warna
-
Normal
tekstur
-
kenyal
Air
% b/b
Maks 80
Abu
% b/b
Maks 3,0
Protein
% b/b
Min 9.0
Lemak
% b /b
Min 1,0
Bahan tambahan makanan
-
Sesuai dengan SNI 01-022-1995
Campuran logam
Timbal
mg/ kg
Maks 2,0
Tembaga
mg kg
Maks 2,0
Seng
mg/ kg
Maks 100
Timah
mg/ kg
Maks 40
raksa
mg/ kg
Maks 0,5
Cemaran arsen
mg/ kg
Maks 1,0
Cemaran mikroba
Angka lempeng toatal
Koloni/ g
Bakteri berbentuk koli
APH / g
Salmonella
-
Staphylococcus aureus
Koloni/ g
Vibrio cholerae
-
negatif
sumber : SNI 01-3819-1995
2.6 Cumi-cumi
Cumi-cumi adalah grup cephalopoda besar. Seperti semua cephalopoda, cumi-cumi dipisahkan dengan memiliki kepala yang berbeda. Akson besar cumi-cumi ini memiliki diameter 1 mm. Tubuh cephalopoda memanjang menurut sumbu dorsoventral, berbeda dengan tubuh moluska lainnya pada umumnya yang memanjang menurut sumbu antero-posterior.. Cumi-cumi banyak dikonsumsi.
Kingdom : Aniamalia
Filum : Mollusca
Kelas : Cephalopoda
Upkelas : Coleoida
Superordo : Decapodiformes
Ordo : Teuthida
Subordo : Plesioteuthididae
Myopsina
Oegopsina (Wood 1995)
Cephalopoda tidak mempunyai kaki yang lebar dan datar seperti halnya moluska lainnya. Pada Loligo sekat-sekatnya lenyap dan cangkangnya teridir atas sisa pro ostracum yang ringan dan transparan terdiri dari zat tanduk yang diseut pen (Suwignyo et al. 2005)
2.7 Kerang darah (Anadara granosa)
Kerang darah (Anadara granosa Linne 1758) hidup di laut. Warnanya putih dengan garis-garis (rusuk) kasar radial yang bergerigi di bagian puncaknya. Daging di bagian dalam mempunyai warna merah sehingga dikatakan kerang darah. Adapun klasifikasi kerang darah adalah sebagai berikut :
Kingdom :Animalia
Phylum :Mollusca
Class :Bivalvia
Subclass :Pteriomorpha
Order :Arcoida
Family :Arcidae
Genus :Anadara
Spesies :Anadara granosa (Gray 1847 dalam ITIS 2003)
Anadara granosa adalah spesies dari tiram perahu yang dikenal dengan kerang darah. Kerang ini pertama kali ditemukan disepanjang daerah Indo-Pasifik, Afrika timur, Australia, Austria dan Jepang. Kerang ini tinggal di daerah yang sebagian besar intertidal (sekitas dua meter kedalaman air), biasnya menengelamkan dirinya di pasir atau lumpur. Ukuran dewasa kira-kira 5-6 cm dan lebar 4 5 cm. Kerang darah ini mempunya nilai ekonomis yang tinggi sebagai makanan, dan selama ini terus dibudidayakan. Kerang ini paling baik jika dihidangkan dalam keadaan direbus atau dipanggang. Kerang ini bercangkang ganda banyak ditemukan di wilayah dasar perairan. Pigmen merah di Anadara adalah berasal dari hemoglobin, biasanya dihubungkan dengan penyakit hepatitis, kolera, dan dysenteri. Dimana kerang-kerangan meracuni setelah dikonsumsi, karena sifatnya yang filder, sehingga mampu menyerap segala kotoran dan zat-zat berbaya yang tertinggal di dasar perairan.. kerang darah selain memakan hewan-hewan kecil juga sering ditemukan daging kepiting-kepiting kecil didalam cangkangnya (Pathansali 1966). Bentuk morfologi kerang darah dapat dilihat pada gambar 2 berikut.
Informasi nutrisi atau komposisi kimia yang ada pada kerang darah adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Komposisi kimia kerang darah
Kandungan
Jumlah (100 g)
Kalori
Total Lemak
Total Protein
Omega-3
Kolesterol
Sodium
74 g
0.96 g
12.7 g
0.14 g
34 mg
56 mg
sumber : USDA dalam Osher 2008

2.8 Spektrofotometer
Spektrofotometer adalah suatu instrumen untuk mengukur transmitans atau absorbans suatu sampel sebagai fungsi panjang gelomnang. Spektrofotometer dikelompokkan secara manual yang terdiri dari berkas tunggal dan berkas rangkap. Berkas tunggal biasanya dijalankan secara manual, dan berkas rangkap umumnya menciirikan perekaman automatik terhadap spektra absorpsi. Pengelompokan spektrofotometr juga didsarkan pada daerah spektral yang terdiri dari spektrofotometer inframerah, ultraviolet dan sebagainya (Day 2002). Komponen penting dari suatu spektrofotometer antara lain adalah sumber, monokromator, sampel, detektor, penguat dan pembaca. Sumber enegi radiasi yang sering dipakai untuk daerah tampak maupun daerah ultraviolet dekat dan inframerah dekat adalah sebauah lampu pijar dengan kawat rambut terbuat dari wolfram. Monokromator adalah piranti opis untuk mengisolasi suatu berkas radiasi dari sumber berkesinambungan. Kebanyakan spektrofotometer menggunakan sel sebagai wadah untuk menaruh cairan ke dalam berkas cahaya spektrofotometer. Untuk detektor diharuskan mempunyai kepekaan yang tinggi dalam daerah spektral yang diminati, respon linear terhadap daya radiasi, waktu respon yang cepat, dapat digandakan dan kestabilannya tinggi (Day 2002).
3. METODE
3.1 Waku dan tempat
Praktikum Identifikasi Formalin Pada Produk Perikanan ini dilaksanakan pada hari Jumat pukul 13.00-16.00 WIB, di Laboratorium Biokimia Hasil Perairan, Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
3.2 Bahan dan alat
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah formaldehida 37%, Aquades, Asam kromatofat (K10H8O8S2), kerang darah (Anadara granosa), Cumi-cumi (Loligo sp.), dan bakso ikan. Sedangkan alat-alat yang digunakan antara lain kertas saring, tabung reaksi, erlenmeyer, penangas, alumunium foil, dan spektrofotometer.
3.3 Metode kerja
Pada praktikum kali ini dilakukan dua kali proses pembuatan larutan, yaitu proses pembuatan larutan standar dan larutan uji. Sebelum memulai, terlebih dahuli dibuat larutan standar sebagai standar atau acuan perhitungan formalin pada sampel. Pertama-tama formalin atau formaldehida 37 % diambil sebanyak 0,0270 ml, kemudian ditambahkan dengan aquades sebanyak 500 ml atau 20 ppm, untuk selanjutnya dibuat delapan konsentrasi yaitu (0;0,05;0;0,1;0,5;0,75;1;1,5;2) ppm. Kemudian ditambahkan asam kromatofat sebanyak 5 ml pada tiap konsenrasi di dalam tabung reaksi. Setelah itu dipanaskan selama 30 menit, dan setelah itu terbentuklah larutan standar.
Proses pembuatan larutan uji dimulai dengan sampel sebanyak 20 gram dihomogenkan dengan aquades, kemudian dipanaskan dan setelah mendidih disaring dengan kertas saring, diambil filtrat sebanyak 2 ml dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan juga asam kromatofat sebanyak 5 ml setelah itu dipanaskan selama 20 menit dan diukur absorbansinya dengan spektrofotometer.
Nilai absorbansi yang telah diperoleh nantinya akan dihubungkan dengan metode regresi linear, terhadap nilai pada larutan standar pada tiap kosentrasi untuk mendapatkan nilai konsentrasi (ppm) pada sampel. Untuk lebih jelasnya mengenai metode kerja pembuatan larutan standar dan larutan uji dapat dilihat pada diagram alir berikut.
4. Hasil dan Pembahasan
4.1 Hasil
Pada praktikum pengujian atau identifikasi formalin pada produk perikanan ini dibagi menjadi dua shift waktu yang berbeda. Berikut hasil data konsentrasi dan absorbansi dari tiap larutan standar dan sampel.
Shift 1
Tabel 1. Data hasil nilai absorbansi kelompok larutan standar
Konsentrasi (ppm)
Absorbansi
0
0.05
0.1
0.3
0.5
0.75
1
1.5
0
0.01
0.02
0.03
0.21
0.27
0.45
0.6
Tabel 2. Data hasil Absorbansi dan Konsentrasi Sampel
Jenis Sampel
Nilai absorbansi
Konsentrasi (ppm)
Keran 1
Kerang 2
Cumi 1
Cumi 2
Bakso 1
Bakso 2
1.1
1.2
0.38
0.33
0.68
0.75
2.6408
2.8756
0.9507
0.8333
1.6459
1.8192
Shift 2
Tabel 3 Hasil Pengukuran pengukuran absorbsi standar
Konsenrasi
Absorbsi
0.5
1.0
1.5
1.75
0.0950
0.2800
0.4800
0.5200
Tabel 4. Hasil pengamatan absorbsi sampel dan nilai konsentrasi formalin
Konsentrasi sampel
absorbansi
Konsentrasi (ppm)
Cumi 1
Cumi 2
Kerang 1
Kerang 2
Bakso 1
Bakso 2
0.2800
0.2400
0.4800
0.4600
0.6600
0.5400
1.0065
0.8929
1.5744
1.5176
2.0855
1.7447

Dari semua sampel yang diujikan semua rata-rata mengandung formalin, terlihat jelas pada hasil penentuan warna setelah dipanaskan. Warna yang terlihat adalah ungu yang menandakan sampel tersebut positif mengandung formalin.
4.2 Pembahasan
Pada praktikum telah diperoleh hasil pada shift pertama dimana nilai absorbansi meningkat seiring dengan peningkatan nilai konsentrasi (ppm), dapat dilihat dimana pada konsentrasi 0,05 ppm diperoleh nilai absorbansi sebesar 0,01 dan pada konsentrasi 1,5 ppm diperoleh absorbansi 0,6. Sedangkan pada pengujian absorbansi konsentrasi sampel, nilai absorbansi pun berbanding lurus dengan nilai konsentrasi formalin pada sampel. Terlihat dari ketiga jenis sampel yang diujikan yaitu kerang, cumi-cumi dan bakso, sampel kerang mengandung konsentrasi formalin tertinggi yaitu sebesar 2,8756 ppm dan 2,6408 ppm. Hal ini dapat disebabkan fisiologi dari kerang darah itu sendiri, sebagaimana diketahui sebagian besar kerang hidup sebagai feeder, sehingga dimungkinkan ketika diberikan perlakuan penambahan formalin maka konsentrasi dan kuantitas formalin yang terserap ke dalam kerang cukup banyak. Berbeda halnya dengan bakso yang telah melalui berbagai proses pengolahan sehingga nilai konsentrasi formalinnya paling sedikit yaitu 0,9507 ppm dan 0,833 pmm. Adapun cumi-cumi memiliki konsentrasi formalin sebesar 1,6549 ppm dan 1,8192 ppm, cumi-cumi juga tidak begitu banyak mengandung formalin, hal ini dapat disebabkan oleh bentuk morfologi cumi-cumi yang berlapiskan mantel tebal. Mantel ini terdiri dari dua macam serabut otot, radial dan melingkar (Suwignyo et al 2005).
Hasil konsentrasi yang diperoleh pada shift kedua menunjukkan hal yang sama dimana nilai konsentrasi (ppm) larutan standar berbanding lurus dengan nilai absrobansi yang diperoleh. Pada ketiga sampel yang diujikan terlihat nilai konsentrasi cumi-cumi kembali memperlihatkan konsenrasi yang terendah, hal ini disebabkan morfologi tubuhnya sebagaimana dijelaskan sebelumnya, adapun kerang darah memiliki konsentrasi sebesar 1,5176 ppm dan 2,0856 ppm.
Formalin dalam penggunaanya dalam bahan pangan memang telah dilarang oleh pemerintah sebagai mana undang-undang yang melarang penggunaan formalin sebagai pengawet makanan adalah Peraturan Menteri Kesehatan No 722/1988, Peraturan Menteri Kesehatan No. 1168/Menkes/PER/X/1999, UU No 7/1996 tentang Pangan dan UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Suatu bahan kimia dikatakan beracun bila berada di atas ambang batas yang diperbolehkan. American Conference of Governmental and Industrial Hygienists (ACGIH) menetapkan ambang batas untuk formalin adalah 0,4 ppm. Sementara National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) merekomendasikan paparan limit untuk para pekerja adalah 0,016 ppm selama periode delapan jam, sedangkan untuk 15 menit 0,1 ppm. Dalam International Programme on Chemical Safety (IPCS) disebutkan bahwa batas toleransi formalin yang dapat diterima tubuh dalam bentuk air minum adalah 0,1 mg per liter atau dalam satu hari asupan yang dibolehkan adalah 0,2 mg.
Sementara formalin yang boleh masuk ke tubuh dalam bentuk makanan untuk orang dewasa adalah 1,5 mg hingga 14 mg per hari. Berdasarkan standar Eropa, kandungan formalin yang masuk dalam tubuh tidak boleh melebihi 660 ppm (1000 ppm setara 1 mg/liter). Sementara itu, berdasarkan hasil uji klinis, dosis toleransi tubuh manusia pada pemakaian secara terus-menerus (Recommended Dietary Daily Allowances/RDDA) untuk formalin sebesar 0,2 miligram per kilogram berat badan. Misalnya berat badan seseorang 50 kilogram, maka tubuh orang tersebut masih bisa mentoleransi sebesar 50 dikali 0,2 yaitu 10 miligram formalin secara terus-menerus (Fahrudin 2007)
Terlihat bahwa konsentrai yang terkandung dalam sampel cumi-cumi, kerang darah, dan bakso masih berada dibawah standar minimum “konsumsi” formalin, namun itu tidak berarti penggunaan formalin dalam makanan diperbolehkan, walaupun bahan makanan tersebut nantinya akan diolah lebih lanjut dan pastinya akan mengalami pemanasan dan kemungkinan besar formalin itu akan ikut teroksidasi namun residu yang ditimbulkan dan dampak dalam jangka lama, dapat berbahaya. Selaian bersifat karsinogenik formalin juga sangat toksik dalam jumlah yang besar.
Oleh karena itu, penggunaan formalin dalam bahan pangan sangat diperhatikan karena akan berdampak buruk bagi kesehatan, dalam jangka waktu lama dan akan terkumulasi dalam tubuh, yang menyebabkan keluarnya air mata, pusing, teggorokan serasa terbakar, serta kegerahan. Jika terpapar formaldehida dalam jumlah banyak, misalnya terminum, bisa menyebabkan kematian. Dalam tubuh manusia, formaldehida dikonversi menjadi asam format yang meningkatkan keasaman darah, tarikan nafas menjadi pendek dan sering, hipotermia, juga koma, atau sampai kepada kematiannya. Di dalam tubuh, formaldehida bisa menimbulkan terikatnya DNA oleh protein, sehingga mengganggu ekspresi genetik yang normal.
5. Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
Formalin merupakan salah satu bahan pengawet yang berbahay jika digunakan untuk bahan pangan. Setelah melakukan praktikum identifikasi formalin pada produk perikanan praktikan telah dapat mengetahui kandungan nilai absorbansi dan konsentrasi (ppm) yang terkandung dalam bahan pangan tersebut serta adpat mengetahui cara pengujiannya. Nilai absroban selalu berbansing lurus dengan nilai konsentrasi, sedangkan pada hasil yang diperoleh konsentrasi formalin terbesar ditemukan pada kerang darah dan konsentrasi terndah ditemukan pada cumi-cumi.
5.2 Saran
Pada proses penentuan awal dan pemilihan bahan yang akan diujikan sebaiknya diberitakan informasinya secara jelas, sehingga asal bahan dan kemungkinan informasi yang berguna bagi pembaca, dan tidak menimbulkan salah persepsi mengenai jenis sampel yang diujikan, tidak semua sampel sejenis mengandung formalin. Selain itu perlu dilakukan juga pemberian formalin oleh praktikan sendiri, sebelum kita mengamati residu yang ditinggalkan sehingga kita dapat mengetahui bahan pangan mana yang banyak atau tidak menyerap formalin secara menyeluruh.
Daftar Pustaka
Day R.A and A.L. Underwood. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta : Erlangga
Instrument. 2000. University of Oslo. http:// www.kjemi .uio.no / Polymerkjemi/ Instruments.htm. [29 Oktober 2008]
[ITIS]. 2003. Andara. http:// www.itis.gov/ servlet/ SingleRpt/ SingleRpt? search_topic =TSN&search_value=79337. [29 Oktober 2008].
Fahrudin. 2007. Formalin dan Bahayanya bagi Kesehatan. http://www.tribun-timur.com/view.php?id=47300&jenis=Opini. [27 Oktober 2008].
Osher M. 2008. Blood Cockle. http://www.edf.org/page.cfm?tagID=16316. [29 Oktober 2008] Paisal. 2007. Formalin Bukan untuk Makanan. http: //www .wartamedika.com /2007/ 10/formalin-bukan-untuk-makanan.html. [28 oktober].
Pathansali D. 1966. Notes on the biology of the cockle, Anadara granosa L. Proc. Indo-Pacific Fish. Counc. http://en.wikipedia.org/wiki/Blood_cockle. [29 Oktober 2008]
Ristek. 2007. Bakso daging, minuman sari lidah buaya, Roti Manis, menu sehat bagi manula, sari buah. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor. http://www.warintek.ristek.go.id/pangan_kesehatan/pangan/ipb/Bakso%20daging.pdf. [29 Oktober 2008].
Reuss G, W. Disteldorf, A.O.Gamer. 2005. Formaldehyde in Ullmann’s Encyclopedia of Industrial Chemistry Wiley-VCH. http://en.wikipedia.org/wiki/Formaldehyde. [29 Oktober 2008].
SNI 1 -3819-1995. Ikan dan produk ikan . Badan Standarisasi Nasional. http: / /www.bsn.or.id/sni/sni_detail.php ?sni_id=1404. [29 Oktober2008].
Suwignyo S, Bambang w, Yusli W, dan Majariana K. 2005. Avertebrata Air Jilid I. Jakarta : Penebar Swadaya.
Wells A. F. 1984. Structural Inorganic Chemistry, 5th ed. Sulfate acid. http://en.wikipedia.org/wiki/sulfate.com [30 Oktober 2008]
Wood J. 1995. Introduction to Cephalopods. http://www.thecephalopodpage.org/. [29 Oktober].

:argh:

4 komentar:

  1. wahhh,,,yu,,thx berat bro,,

    hahahaa,,,akhirnya dapet juga tinpus eke,,hahahaa,, smangat,,!!

    ibnuaffiano@yahoo.com

    ReplyDelete
  2. kalo laporan di upload gini apa g takut ada penjiplakan?

    NB: salam buat ika pranata ya....:-)

    ReplyDelete
  3. thx banget...sangat membantu...tapi koq ga' ada gambarnya???

    ReplyDelete
  4. Tulisan ini baik dan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai pengujian formalin. Ada satu pertanyaan saya adalah:
    Berapa konsentrasi larutan asam kromatofat yang digunakan? Apakah digunakan asam kromatofat p.a atau bila ada tahapan membuat larutan uji ini boleh saya tahu caranya?
    Ralat: 1000 ppm = 1000 mg/kg, bila bobot jenis sampel = 1 kg/liter, maka 1000 ppm = 1000 mg/l, bukan 1 mg/l.
    Terima kasih

    ReplyDelete

Google+ Followers

Followers

Recent Comments